SURABAYA – Sebuah video yang menunjukkan sekelompok siswa membuang nasi dan lauk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam gerobak dorong di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, telah menjadi viral dan menarik perhatian publik di media sosial. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso segera memberikan klarifikasi resmi untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa tindakan para pelajar dalam video tersebut bukanlah pembuangan makanan secara sengaja. Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu merupakan proses pengumpulan sisa makanan yang tidak terpakai agar bisa dimanfaatkan kembali dengan cara yang teratur. "Bahwa itu sebenarnya bukan dibuang, tapi memang dikumpulkan sisa-sisa makanan. Sisa makanan dikumpulkan karena ingin dimanfaatkan supaya tidak terbuang secara acak, tapi dikumpulkan kemudian bisa diolah," ungkap Emil saat ditemui di Surabaya.
Kronologi Kejadian di Bondowoso
Emil menjelaskan bahwa insiden dalam video viral tersebut terjadi di Kecamatan Wonosari, Bondowoso, yang dilayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tumpeng. Di wilayah tersebut, terdapat 2.386 penerima manfaat dari program MBG. Ia juga mengungkapkan bahwa orang yang merekam video tersebut bukanlah guru atau karyawan sekolah, melainkan orang luar yang berada di sekitar MTs Negeri 4 Bondowoso.
Meski demikian, Emil mengakui perlunya evaluasi menyeluruh terkait porsi makanan yang disajikan kepada siswa. "Kita cek apakah porsi... kan sebenarnya keseimbangan gizi juga penting. Kebanyakan tapi juga berbanding dengan lauk ya supaya proporsional. Nah, ini tentu bisa menjadi ruang pembenahan," tambahnya.
Penjelasan dari Pihak Sekolah
Kepala MTs Negeri 4 Bondowoso, Qurniyatul Fatiya, dalam video klarifikasi resmi mengonfirmasi bahwa insiden tersebut memang terjadi di sekolah yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa makanan yang dimasukkan ke dalam gerobak bukanlah paket MBG yang utuh, melainkan sisa dari makanan yang telah dimakan siswa. Qurniyatul menjelaskan bahwa pada hari kejadian, distribusi makanan dari program MBG mengalami keterlambatan akibat penutupan akses jalan utama karena kunjungan kerja Wakil Menteri di wilayah tersebut.
"Akibatnya, anak-anak sudah telanjur membeli makanan di kantin. Makanan yang ada di video itu adalah sisa dari yang dimakan, bukan makanan utuh yang sengaja dibuang," jelas Qurniyatul. Ia menambahkan bahwa sisa makanan tersebut dikumpulkan oleh para guru untuk dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak itik. Mengenai video tersebut, pihak sekolah menegaskan tidak pernah membuat atau menyebarkannya, dan menduga video itu diambil secara sembunyi-sembunyi oleh pihak luar.
Kehebohan yang ditimbulkan oleh video ini juga memicu respons dari Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Bondowoso. Mereka segera melakukan penelusuran untuk memastikan kualitas program pemenuhan gizi ini tetap terjaga. Wakil Bupati Bondowoso sekaligus Ketua Satgas MBG, As'ad Yahya Syafi'i, menyatakan bahwa insiden ini akan menjadi bahan kajian mendalam, terutama terkait kualitas makanan dan ketepatan waktu pengiriman.
As'ad menambahkan bahwa mereka telah menerima berkas video klarifikasi dari madrasah dan terus berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah pendidikan setempat untuk mengetahui perincian teknis di lapangan. "Ya, kami akan koordinasi dengan Korwil untuk segera dievaluasi untuk mengetahui detailnya. Serta segera melakukan peningkatan kualitas dan pelayanan," tutupnya.
Sementara itu, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso, Milla Afriana Agustina, mengungkapkan bahwa evaluasi internal telah dilakukan setelah masalah komunikasi dan distribusi ini teridentifikasi. "Kami kemarin sudah analisa persoalannya," kata Milla, menekankan pentingnya temuan di MTsN 4 Bondowoso sebagai pelajaran untuk seluruh unit SPPG dalam meningkatkan koordinasi dan menjaga mutu makanan gizi bagi siswa.