YOGYAKARTA - Sebuah video yang memperlihatkan ajudan Danrem 072/Pamungkas Yogyakarta yang tidak diperbolehkan masuk oleh panitia Mandiri Jogja Marathon (MJM) menjadi viral di berbagai platform media sosial. Insiden ini terjadi karena ajudan tersebut tidak mengenakan Body Identification Number (BIB) atau nomor dada peserta selama acara berlangsung.
Menurut informasi resmi dari Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, yang merupakan Danrem 072/Pamungkas, mengikuti acara lari tersebut bersama keluarga, termasuk anak dan istri, serta seorang ajudan. Danrem menyatakan bahwa mereka memiliki empat tiket umum dan satu tiket undangan Muspida untuk berpartisipasi dalam Mandiri Jogja Marathon. Sejak awal perlombaan, Danrem dan ajudannya dilaporkan telah mengenakan nomor dada atau BIB sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh penyelenggara.
Insiden di Tengah Keramaian
Selama perlombaan, ajudan tersebut beberapa kali berlari lebih cepat dibandingkan Danrem dan keluarganya. Hal ini dilakukan untuk mengambil foto, di mana ajudan mengenakan kaus atau kostum lari yang disediakan oleh panitia. Namun, diduga nomor dada yang dikenakan ajudan terlepas ketika berada di tengah kerumunan peserta lomba, dan hal ini tidak disadari oleh yang bersangkutan. Akibatnya, ajudan tersebut tidak diperkenankan masuk oleh panitia saat berada di area acara, yang memicu ketegangan antara ajudan dan petugas di lapangan. Rekaman insiden ini kemudian menyebar luas di media sosial, menjadi sorotan publik.
Penyelesaian Secara Kekeluargaan
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Penerangan Korem 072/Pamungkas Mayor Inf Suwito menyatakan bahwa masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan. “Terjadi kesalahpahaman saja, sudah bertemu dan saling memaafkan,” ungkapnya saat dihubungi. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pihak Korem 072/Pamungkas dan panitia Mandiri Jogja Marathon juga telah melakukan mediasi yang berlangsung pada Minggu malam di Hotel Tentrem, Jetis, Kota Yogyakarta.
Setelah mediasi, ajudan Danrem menyampaikan permohonan maaf melalui video yang dibagikan oleh Penerangan Kodam IV/Diponegoro. Dalam video tersebut, ajudan menyatakan, “Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari, dengan menggunakan jersey namun tidak menggunakan BIB. Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.” Ia juga meminta maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas dan relawan, serta peserta yang terdampak oleh kejadian ini, dan menganggapnya sebagai pembelajaran untuk ke depannya.
Permohonan maaf juga disampaikan oleh salah satu marshall yang terlibat dalam insiden tersebut. “Saya juga memohon maaf atas tindakan saya yang berlebihan dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai,” ujarnya. Dengan adanya pertemuan dan saling menyampaikan permohonan maaf, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri persoalan ini secara damai.