YOGYAKARTA - Nasirun, seorang seniman lukis dari Cilacap, Jawa Tengah, telah meninggal dunia pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026. Mendiang dikenal sebagai sosok yang tidak menggunakan gawai dan tidak terlibat dalam media sosial di tengah kemajuan teknologi saat ini.
Marzuki Muhammad, yang akrab disapa Juki, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap sikap Nasirun yang memilih untuk tidak terjebak dalam dunia media sosial. Menurut Juki, pilihan tersebut mencerminkan kebebasan Nasirun dalam berkarya tanpa terpengaruh oleh algoritma yang seringkali memengaruhi seniman muda saat ini. “Pak Nasirun tidak mau terpenjara dengan hal semacam itu, dan karya-karyanya pun tetap kontekstual meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma media sosial. Luar biasa sih,” ungkap Juki saat ditemui di rumah duka di Perumahan Bayeman Permai.
Kenangan Bersama Sang Maestro
Juki juga mengenang Nasirun sebagai seorang guru dan sahabat. Dalam sebuah perbincangan, Nasirun pernah menyampaikan bahwa ia sering melukis sambil mendengarkan musik dari Jogja Hip Hop Foundation berjudul "Sedulur". Belum lama ini, Nasirun juga menyatakan keinginannya untuk mengadakan pameran di peternakan miliknya. “Dia bilang, 'Aku kok pengen pameran di kandang pitikmu (ayam) ya,” ujar Juki. “Di luar karya-karyanya yang luar biasa, dia adalah orang yang sangat sederhana, humble, grapyak (ramah), dan suka membantu teman (ringan tangan). Saya merasa kehilangan seorang teman sekaligus maestro untuk Indonesia,” tambahnya.
Kehilangan yang Mendalam
Budayawan Yogyakarta, Sindhunata, juga menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian Nasirun yang terkesan mendadak. “Kita tidak mengira dia hidupnya penuh dengan tawa. Apapun bisa menjadi tawa, bahkan sebelum bicara sudah tertawa, menghibur, tidak pegang HP,” kata Romo Sindhunata. Ia juga mengomentari tentang kebebasan Nasirun yang hidup tanpa gawai dan tidak tergantung pada algoritma, menilai hal tersebut sebagai bentuk ketidakterikatan pada apapun. "Iya, dia memang orang bebas ya, tidak mau terikat oleh apapun. Menandakan bahwa dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, dengan fasilitas. Menghayati kreativitasnya dengan sendirinya,” ujarnya.
Menurut Sindhunata, Nasirun memiliki karisma yang kuat sehingga meskipun tanpa gawai, penikmat karya seni tetap merasakan kedekatan dengan karya-karyanya. “Jadi dia memang punya aura yang bahkan tidak usah tergantung pada sarana yang namanya HP. Bisa gitu menerima semua orang dan memancarkan kebaikan,” tutup Sindhunata.