BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 11:57 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Sabtu, 01 Agt 2026 10:59 WIB

Petani Tebu di Magetan Tertekan oleh Biaya Produksi dan Ketidakpastian Harga Gula

01 Agt 2026, 10:59 WIB 60x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
T
Taufik Pranata 60x dibaca · 3 menit baca
Petani Tebu di Magetan Tertekan oleh Biaya Produksi dan Ketidakpastian Harga Gula
regional.kompas.com

MAGETAN – Para petani tebu yang bekerja di sekitar Pabrik Gula (PG) Poerwodadie, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami tekanan ganda pada musim giling tahun ini. Selain menghadapi kenaikan biaya produksi yang terus meningkat, mereka juga belum mendapatkan kepastian dari pemerintah mengenai Harga Acuan Pemerintah (HAP) untuk gula konsumsi, yang dianggap penting untuk menentukan pendapatan petani.

Ketua APTR PG Poerwodadie, Sudaryanto, mengungkapkan bahwa lonjakan biaya produksi membuat margin keuntungan petani semakin menyusut, bahkan banyak yang berada di ambang kerugian. "Posisinya sekarang antara impas dengan rugi. Biaya garap naik semua, mulai tenaga kerja, ongkos tebang sampai angkutan. Harapan kami HAP gula bisa ditetapkan minimal Rp 15.500 per kilogram, supaya petani masih mendapat keuntungan meski tipis," jelas Sudaryanto melalui telepon pada Sabtu (1/8/2026).

Kenaikan Biaya Produksi yang Signifikan

Sudaryanto menambahkan bahwa tingginya biaya produksi disebabkan oleh meningkatnya upah tenaga kerja dan biaya operasional selama musim panen. Ongkos untuk menebang dan mengangkut tebu juga mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga membebani petani. Saat ini, biaya angkut tebu berkisar antara Rp 48.000 hingga Rp 50.000 per kuintal, tergantung pada jarak dari lahan ke pabrik. "Sekarang ongkos angkut sekitar Rp 48.000 sampai Rp 50.000 per kuintal tergantung jauh dekatnya lahan. Semua biaya operasional naik," imbuhnya.

Selain itu, upah tenaga kerja juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya. Upah untuk pekerja laki-laki kini mencapai Rp 80.000 per hari, sementara untuk pekerja perempuan naik dari Rp 70.000 menjadi lebih tinggi, belum termasuk biaya konsumsi yang harus disediakan oleh petani.

Tantangan dalam Mendapatkan Tenaga Tebang

Di samping masalah biaya, petani juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan tenaga tebang saat musim giling. Situasi ini diperburuk oleh antrean tebu yang mengular di pabrik, yang berdampak pada efisiensi operasional. "Sulit mencari tenaga tebang, antrean tebu di pabrik juga membludak. Jadi pengeluaran petani semakin besar," kata Sudaryanto.

Dia menjelaskan bahwa meskipun harga gula tahun ini lebih baik dibandingkan musim sebelumnya, kenaikan tersebut tidak cukup untuk menutupi lonjakan biaya produksi yang terjadi di hampir semua sektor. Oleh karena itu, APTR berharap pemerintah segera menetapkan HAP gula sesuai dengan usulan yang telah diajukan oleh organisasi petani tebu. Sudaryanto menyebutkan bahwa mereka telah mengusulkan HAP gula berada di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 15.750 per kilogram, namun hingga awal Agustus 2026, belum ada keputusan resmi dari pemerintah.

"Sampai sekarang belum ada informasi dari pemerintah mengenai HAP gula berapa. Padahal usulan dari teman-teman APTR sudah disampaikan di kisaran Rp 15.500 sampai Rp 15.750 per kilogram," ujarnya. Menurutnya, kepastian mengenai HAP sangat penting karena menjadi acuan harga gula di tingkat petani serta memberikan kepastian usaha di tengah meningkatnya biaya produksi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, para petani tetap melanjutkan penanaman tebu untuk musim berikutnya. Sudaryanto menyatakan bahwa waktu tanam terbaik berlangsung antara Mei hingga Juli, dan lahan yang baru dipanen pada bulan Agustus akan segera ditanami kembali jika tersedia pengairan. "Kalau ada pengairan masih bisa tanam saat kemarau. Tapi kalau tidak ada air ya harus menunggu musim hujan," tuturnya.

Sudaryanto berharap agar pemerintah segera mengeluarkan keputusan mengenai HAP gula, sehingga petani dapat memperoleh kepastian harga dan menjaga keberlanjutan usaha perkebunan tebu rakyat. "Harapan kami pemerintah segera menetapkan HAP. Dengan biaya produksi yang terus naik, petani membutuhkan kepastian harga agar usaha tebu tetap bertahan," pungkasnya.